Skip to content

Nenek Turinah yang mengaku berumur 157 tahun

02/06/2010

Dua pekan terakhir hampir di tiap kabupaten di Sumatera Selatan ditemukan nenek atau kakak berusia lebih dari satu abad. Kali ini, hasil bancian di Kabupaten OKU Timur, ditemukan seorang nenek berusia lebih dari 1,5 abad. Tepatnya 157 tahun. Demikian informasi yang didapat wartawan Sriwijaya Post dari Kepala BPS OKU Timur, Ir Jhoni Sardjono.

Menurut Jhoni Sardjono, bancian penduduk dilakukan BPS OKU Timur sejak 20 April 2010 lalu. “Boleh jadi dia (Turinah) itu bukan saja tertua di OKU Timur namun juga tertua di Sumatera,” tegasnya.

Menurut Jhoni, sehari-hari Turinah tetap menjalani kegiatannya dengan bersosial bersama warga sekitar, memasak, merumput di pekarangan rumah dan berbelanja di warung terdekat.

“Sayangnya tidak ada bukti otentik yang dapat membuktikan, namun dari keterangan yang bersangkutan ditambah dengan informasi dari pihak keluarga, dia lahir tahun 1853 lalu,” katanya.

Menurut Jhoni masih di Desa Tanjung Mas ada juga warga yang berusia 108 tahun. “Dulu yang mengasuhnya ketika masih bayi. Adalah Turinah ini,” jelas Jhoni.

Kupas Bawang Ketika Sripo menyambangi kediamannya di Desa Tanjung Mas RT 001/01, Kecamatan Buay Madang Timur, nenek Turinah sedang sibuk mengupas bawang dan memetik sayur untuk dimasak. Meski umurnya telah senja, namun pendengaran Turinah masih normal. Terbukti dia dengan spontan menjawab dengan lantang salam dari wartawan Sriwijaya Post.

“Waalaikum salam,” ucapnya.

Di dampingi menantunya, Muhammad Kodir (40), Turinah mengaku lahir di Jember tahun 1853 sebelum menetap di Desa Tanjung Mas tempat tinggalnya sekarang ini. Sudah tidak terhitung berapa kali nenek yang mengaku hidup di lima zaman, berpindah tempat tinggal.

“Waktu penjajahan Belanda itu aku masih gadis. Pindah ke sini ikut orang tua berpindah,” tambahnya.

Pada masa penjajahan Belanda itu juga dia sempat bekerja di Kebun Teh Gunung Dempo Pagaralam. Selain itu juga sempat menetap di Bandingagung, Muaradua, OKU Selatan dan daerah Muaraenim.

“Kerana terus dikejar oleh Belanda. aku bersama dengan pejuang lainnya termasuk Dr AK Gani sempat sembunyi di Bandingagung Ranau, ke sananya jalan kaki selama satu hari satu malam,” jelasnya.

Kerana kerap berpindah tempat itu juga tidak hairan jika nenek tua ini menguasai sejumlah adat istiadat setempat termasuk bahasa daerah. Seperti bahasa Ogan, Semende (Muaraenim), Lahat, Pagaralam, Belanda dan Jepang.

Di masa penjajahan Jepang. Turinah mengaku aktif di dapur umum membantu sejumlah pejuang gerila. Namun sayangnya ketika pecah G30S PKI pada tahun 1965. Sejumlah dokumen tentang dirinya itu dibakar karena alasan takut terlibat dalam G/30 S PKI.

“Ketika ada datang petugas yang mendata veteran. Aku tidak boleh tunjukan sebab semua dokumen itu telah dibakar semuanya,” jelasnya. (hr)

From → Uncategorized

Comments are closed.

%d bloggers like this: