Skip to content

Orang Indonesia di belakang Lin Dan

17/05/2010

Di belakang penampilan gemilang tunggal utama China, Lin dan, ternyata ada jurulatih besar kelahiran Indonesia.

Di Piala Thomas di Bukit Jalil lalu, Lin Dan tampil begitu perkasa. Ia mengalahkan pemain-pemain negara-negara lain termasuk pemain peringkat satu dunia dari Malaysia, Lee Chong Wei dan pemain utama Indonesia, Taufik Hidayat di final.

Setiapkali Lin Dan bertanding, di tepi lapangan duduk jurulatihnya, seorang yang sudah uzur. Namun bagi para pemain dari China dan Indonesia yang mengenalnya, orang tua itu dikenal sebagai seorang tua yang banyak ilmunya.

Orang tua itu, Tang Hsienhu, tang Xianhu atau Tong Sinfu, merupakan seorang yang sangat dihormati Lin Dan. Pemenang emas Olimpik Beijing 2008 ini selalu mengatakan semua kemenangannya hanya dipersembahkan buat Tang atau Tong.

“Dia memang jurulatih saya, namun saya memandangnya sebagai kong-kong, kakak saya. Ia seorang jurulatih yang bertanggungjawab dan saya beruntung memilikinya. Ia tidak hanya membimbing saya dari segi teknik, namun juga dalam nilai-nilai kehidupan,” kata Lin Dan.

Kehadiran Tang atau Tong di tepi lapangan ketika Lin Dan menghadapi Taufik Hidayat di final sebenarnya merupakan perang psikologi yang sangat dahsyat buat Indonesia. Tong memang lahir dan besar di Indonesia. Tepatnya di Teluk Betung, Lampung, 13 Mac 1942.

“Di China, nama saya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Tapi, orang tua saya memberi nama Tong Sin Fu,” katanya tahun lalu.

Kembali ke China 1950-an, ia kembali ke Indonesia sebagai pelatih pada 1986. Pertama melatih Pelita Jaya, Tong kemudian ditarik menangani pelatih kebangsaan Cipayung. Di tangan Tong atau yang kerap dipanggil “Oom Tong” oleh para pemain, lahir pemain-pemain yang kemudian membawa Indonesia mendominasi dunia 1990-an seperti Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Hariyanto Arbi mahu pun para pemain puteri angkatan Susy Susanti dan Lily Tampi.

Oom Tong inilah yang ikut dalam projek besar merebut pingat emas olimpik Barcelona 1992 yang dipenuhi oleh Alan Budikusuma dan Susy Susanti. Bahkan Tong kemudian ikut melahirkan generasi Hendrawan.

Namun cerita Tong di Indonesia berakhir pada 1998 setelah permohonannya menjadi warna negara Indoensia ditolak. Ia kemudian kembali ke China dan kembali ditarik melatih pasukan utama China. Di tangannya kemudian lahir generasi baru China seperti Xia Xuanze hingga Lin Dan dan Xi Jinpeng.

From → Sukan

Comments are closed.

%d bloggers like this: